Minggu, 13 Oktober 2019

Siapa Perempuan Itu?!


Jantungku berdebar cepat. Aku mulai dihinggapi ketakutan melihat kondisi sekitar menjadi gelap, seakan-akan hari sudah malam. Aku cemas, panik, dan takut. Namun, perempuan itu masih memegangi lenganku.
Dengan segala macam upaya, akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku. Aku berusaha melepaskan tangan perempuan itu. Aku terkesiap saat tangannya menjadi terasa dingin dan kasar.
Perasaanku kian tidak enak. Sialnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain memanggil-manggil nama istriku.
“Ti…. Ti… Siti, tolong akang,” teriakku, memanggil nama istriku. Tapi aku tak mengerti betul, saat itu suaraku benar keluar atau tidak.
Sama sekali tidak ada jawaban. Aku mengulanginya bebera kali lebih keras. Namun, tetap saja tidak ada jawaban. Sedangkan suasana di sekitarku semakin gelap. Kini aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.
Tangan perempuan itu kembali menguatkan cengkeramannya di lenganku. Dengan sekuat tenaga aku memberontak. Sampai pada akhirnya aku mampu melompat dari tempat duduk.
Mataku terbuka, lalu kulihat sekeliling. Ternyata aku masih di ruang tamu. Matahari tampaknya juga masih bersinar di luar sana. Dan, istriku sudah berdiri di belakangku. Ia terkejut melihatku, sama terkenjutnya denganku saat melihatnya
“Akang kenapa?” tanya istriku.
Aku tersadar semuanya hanya mimpi.
“Mimpi gak enak,” jawabku, sembari mengelap keringat dingin yang membuat kausku basah.
Aku sengaja berusaha menutupi rasa takutku. Aku tidak ingin istriku khawatir.
“Mungkin Akang capek. Minum dulu tehnya,” kata Siti, menaruh segelas teh hangat di atas meja kaca.
Segera kuraih gelas itu lalu meneguknya. Siti menggeleng lalu masuk lagi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Hari semakin gelap. Sebentar lagi malam.
Aku duduk lagi di kursi ruang tamu. Kutampar wajahku beberapa kali untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menggelayuti. Bagaimana bisa aku mengalami mimpi buruk di hari pertama tinggal di rumah ini? Semoga ini bukan pertanda buruk.
Seusai makan malam di ruang tamu, aku dan Siti pergi tidur. Rasa lelah masih tersisa. Aku tidur cepat, pun istriku.
Tengah malam, udara di kamar semakin dingin. Hal itu membuatku terbangun. Terdengar suara kodok dan burung hantu yang nyaring memecah kesunyian malam.
Tiba-tiba aku kebelet kencing. Kamar mandi cukup jauh berada di belakang. Namun, aku tidak lagi bisa menahannya. Dengan terhuyung-huyung aku pergi ke kamar mandi.
Begitu kembali ke tempat tidur aku mendengar suara piring dan sendok yang beradu. Aku terdiam sejenak sambil memastikan kalau aku tidak salah dengar. Benar saja, suara itu semakin jelas terdengar.
Hati kecilku melarang untuk kembali ke belakang memeriksa dapur. Jadi, kubiarkan saja suara itu berlangsung selama beberapa saat.
Namun, ketenanganku kembali terusik ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Jantungku berdegup kencang. Tidak ada angin dan tidak ada apa pun. Tapi, pintu kamar terbuka lebar seperti ada yang menarik.
Saat itu juga aku merasa ada entitas lain di rumah itu. Naluri pertamaku ada untuk melindungi istriku yang masih terlelap. Meski takut aku tidak boleh gentar. Sampai akhirnya sesosok perempuan lewat di depan pintu kamarku dari belakang menuju pintu depan. Itu cukup membuat bulu kudukku berdiri
Ia sempat menoleh ke arahku sambil berjalan. Sangat jelas sepintas kulihat senyumnya. Keberanian yang tersisa dalam diriku langsung rontok. Tapi aku tetap berdiri tegak demi istriku.
Kukeluarkan sedikit kepalaku melalui ambang pintu untuk melihat ke mana perginya perempuan itu. Nihil, ia lenyap tanpa jejak meninggalkan sebuah teror di dalam diriku.
Tiba-tiba, jantungku hampir dibuat copot oleh sebuah suara keras yang berasal dari dinding ruang tamu. Suara itu seakan-akan membuatku mengira tembok ruang tamu akan runtuh. Aku hanya bisa berdiri dengan wajah tegang. Lalu, sebuah lukisan yang menggantung di dinding ruang tamu bergerak-gerak.
sumber: https://kumparan.com/mbah-ngesot/menikah-dengan-lelembut-perempuan-misterius-1rwBqpSErW4


Terimakasih Atas Kunjungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selalu Gunakan kata-kata yang baik setiap berkomentar.
Terimakasih.