![]() |
| Sumber: https://pxhere.com/id/photo/150125 |
Total cuma berempat termasuk aku. Kita ngecamp itu mlm selasa. Krna rencana yg dadakan itu lbh sering terealisasi jadi kita serba cepet nyiapin keperluan yg mau kita bawa. Dan ternyata yg berhasil kita kumpulin cuma brg2 seadanya.
Kita berangkat jam 3 sore dan sampai di gerbang menuju lokasi lewat magrib sblm isya. Langsung aku ke loket bayar tiket dan ijin ngecamp satu mlm. Setelah urusan tiket selesai kita langsung ke lokasi. Waktu itu aku lupa nanya petugas apa ada org yg ngecamp selain kita berempat apa enggak.
Tapi krn males balik yaudah kita lanjutin perjalanan. Baru setengah jalan udah berasa bgt sepinya. Krn memang kita dtg bukan di waktu weekend yg biasanya warung2 sekitar masih buka, kali ini cuma ada satu warung dan itu juga lagi siap2 untuk tutup. Cepet2 kita beli air mineral dan beberapa nasi bungkus. Waktu kita beli nasi masih ada tuh satu keluarga yg abis ngecamp jg baru mau keluar. Aku sempet negor mereka.
Tiba2 si teteh (red: mbak penjual warung) bilang, "kalo mau camping mending jangan di lokasi yg biasa dipake buat camp mandiri (bawa tenda sendirii) soalnya ga ada siapa2 neng. Trus jlnnya lebih jauh, kurang bagus juga jalannya. Mending camping di tempat tenda sewaan lebih rame.
Akhirnya kita ikutin saran si teteh tadi. Setelah sampai kami pilih spot kemudian bikin tenda di dekat lampu penerangan dg harapan enggak terlalu gelap krn memang kita lupa enggak bawa lampu emergency. Selagi bikin tenda turunlah mamang- mamamg (red: lelaki paruh baya). Dia bilang punya warung di curug paling atas. Curug 7 kalo enggak salah. Sambil bantu senterin kita yg lagi bikin tenda, dia nanya. "Kalian ini knpa dtg hari biasa? Kan sepi. Udah gitu mana enggak ada org lain lagi selain kalian yg camping disini."
Jantungku berdegup kencang waktu denger kalimat si mamang ini. Terlebih aku sudah cukup lama enggak camping. Tp aku coba bersikap biasa saja krn takut semangat yg lain goyah. Setelah jelasin alasan kita milih ngecamp hari ini si mamang cuma manggut- manggut mengerti. Dan dia pun pamit untuk turun krn di atas sudah tidak ada orang. Jam sudah menuju angka 9 malam, tenda sudah hampir selesai dan kita pun memasak mie instan sambil beres- beres barang bawaan kita.
Sehabis membereskan makan kemudian makan kami pun langsung istirahat krn kelelahan.
15 menit berlalu, temenku yg cowok udah tepar ngorok duluan. Tinggalah kita cewek- cewek yg msh melek. Tak lama temanku, si Nita (nama samaran) juga ijin tidur. Tp aku enggak nyahut krn aku memang belum mengantuk. Tp akhirnya dia juga molor ninggalin aku.
Tinggal lah aku sendirian yg masih cengar. Tp krn takut melek sendirian di alam bebas kayak gink khirnya aku mencoba memejamkan mata. Tak lupa kuping ku sumpal biar enggak denger apa2. Hampir 2 jam aku berusaha untuk tidur tp tetap saja kesadaranku masih full 100%.
Waktu ku buka hapeku jam menunjukkan pukul 12 kurang. Rasanya aku pengen nangis. Enggak biasanya aku penakut gini. Apalagi waktu ngeliat teman2 yg lain bisa tidur pulas. Sedangkan aku melek sendirian. Seandainya bukan hanya kita berempat yg kemah disini aku enggak masalah. Intinya masih ada orang selain kita disini. Tapi ini kan lain ceritanya. Otakku sudah memutarkan hal yg tidak2. Stop pikirku.
Tak lama pandanganku meghitam. Syukurlah akhirnya ngantuk juga. Tapi tiba2 ada sesuatu atau mungkin seseorang memukul- mukul tenda.
Siapa ya? Batinku.
Masih dalam posisi tertidur tp sepertinya nyata. Tidur ayam. Mungkin kalian nyebutnya sih gitu.
Ku buka resleting tenda dan disana berdiri cowok tinggi, putih, tapi maaf dg keadaan down syndrom. Dia nunjuk- nunjuk ke arah atas tebing, di atas tenda. Sambil menunjuk ke arah yg sama dia berusaha cerita. Dia bilang dia dikubur disana padahal dia belum mati.
Darahku seketika berdesir dari ujung kaki sampai ujung rambut. Hawa dingin menyelimutiku.
Saat itu aku hanya duduk diam di dalam tenda sambil mendengar dia bercerita. Dan saat dia mengajakku untuk naik ke atas aku mengiyakan.
Saat aku bersiap berdiri, aku melihat jelas di pundak deket leher pria itu ada banyak darah menggumpal. Lebih seperti ayam tiren. Namun aku tetap ikut berjalan di belakangnya hingga sampai ke tempat dimana ia berhenti. Kemudian ia menunjuk ke sebuah makam dan saat ia menengok ke arahku, enggak tau lagi harus bilang apa, wajah si cowok tadi berubah 180 derajat menyeramkan. Asli enggak bohong.
Sontak aku tersaran dengan napas menderu seperti habis dikejar anjing. Saat itu perasaanku benar2 takut. Dan aku memutuskan untuk membangunkan teman2ku. Tp mereka cuma nanya "ada apa?" lalu tidur lagi. Saat cek hape ternyata masih jam setengah 2. Karena takut mataku makin sulit untuk terpejam. Akhirnya aku terjaga hingga adzan subuh berkumandang.
Tapi di sela2 aku menunggu waktu terasa berjalan begitu lambat. Suara deru angin yg membuat daun2 bergesek satu sama lain membuat suasana kian mencekam.
Namun akhirnya malam itu pun berlalu. Sepagian itu kami habiskan untuk berkeliling dan menikmati pemandangan indah yg Tuhan sudah sungguhkan kepada kami. Sembari berjalan, lamat2 kami mendengar lagu priangan yg sengaja dipasang di pohon2 besar yg ada disana. Lagu yg membuat siapa saja akan betah berlama- lama disini.
Waktu berjalan begiti cepat. Tak terasa hari sudah hampir malam. Kami pun beres2 tenda dan barang2 lainnya. Temanku, si Nita nyeletuk. "Eh gimana kalo kita nambah satu malam lg dsni?"
Sontak aku menyahut, "ogah. Enggak mau gw mau pulang." Nita pun mengalah. Sepertinya ia tau ada yg tidak beres. Tapi dia mencoba untuk diam. Saat sibuk membereskan barang2 kami bertemu kembali dg si Mamang. Sambil berpamitan aku berbisik bertanya kepadanya. "Mang, emangnya bener ya pernah ada makam disini?" Dia hanya menggangguk. "Mungkin org yg dlu tinggal dsni neng. Kenapa neng?" Aku yg melamun terkejut dg pukulan tangan Mamang di pundakku. "Enggak apa- apa Mang." sahutku berbohong.
Tak butuh lama semua sudah masuk di dalam tas masing- masing. Saat sampai di loket aku mengambil KTP ku dan teman2 ku yg ku titipkan semalam. Krn masih penasaran aku kembali menanyakan hal yg sama pada petugas loket. Kembali aku mendapati jawaban yg sama.
Sepanjang perjalanan temanku Nita memperhatikanku hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya. Dan aku pun menceritakan semuanya. Ia kaget sekaligus bergidik begitu mendengar ceritaku. Tapi sekali alhamdulillah aku dan teman2ku sampai dg selamat.
Aku berfikir ambil positifnya jika memang yg sy alami itu nyata,mungkin sosok yang sy temui hanya mau bercerita bahwa dia ada ditempat itu,bukan ingin menakuti. Dan kami kesana bukan untuk mengusik,jadi Wallahua'lam.
Terimakasih Atas kunjungannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Selalu Gunakan kata-kata yang baik setiap berkomentar.
Terimakasih.